Desember: Pergulatan akan Perseteruan (Analisis Hermeneutik)

jerujimati

Dulu, untuk mengingat kapan musim hujan datang dan kapan musim kering tiba, saya mengingat  empat bulan terakhir kalender Masehi, yakni September, Oktober, November, dan Desember. Sebab, “-ber” di setiap akhir bulan itu mengingatkan saya pada ember, wadah penampungan air. Berarti, pada bulan-bulan tersebut hujan akan turun setiap tahunnya.

Sampai pada akhirnya, beberapa tahun lalu, saya kenal dengan lagu Desember yang dipopulerkan oleh Efek Rumah Kaca. Pikiran saya ditarik ke zaman sekolah dasar dulu, ketika mengingat kapan turunnya hujan. Dan kini, ingatan itu abadi dalam sebuah lagu, hujan dan Desember. Ah, itu hanya pikiran saya. Di sini, saya akan membahas lirik Desember dan kebersinggungannya dengan hujan serta realitas di sekitarnya.

Berdasarkan lirik tersebut, saya tidak akan mengacukan bahasan kepada Efek Rumah Kaca atau Cholil Mahmud selaku pencipta lirik, tapi saya akan menggunakan istilah “aku lirik”, sebagai aku yang hadir dalam lirik.

Sejak pertama kali saya dengar, lagu ini langsung menempel di…

View original post 1,504 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: