Desember: Pergulatan akan Perseteruan (Analisis Hermeneutik)

jerujimati

Dulu, untuk mengingat kapan musim hujan datang dan kapan musim kering tiba, saya mengingat  empat bulan terakhir kalender Masehi, yakni September, Oktober, November, dan Desember. Sebab, “-ber” di setiap akhir bulan itu mengingatkan saya pada ember, wadah penampungan air. Berarti, pada bulan-bulan tersebut hujan akan turun setiap tahunnya.

Sampai pada akhirnya, beberapa tahun lalu, saya kenal dengan lagu Desember yang dipopulerkan oleh Efek Rumah Kaca. Pikiran saya ditarik ke zaman sekolah dasar dulu, ketika mengingat kapan turunnya hujan. Dan kini, ingatan itu abadi dalam sebuah lagu, hujan dan Desember. Ah, itu hanya pikiran saya. Di sini, saya akan membahas lirik Desember dan kebersinggungannya dengan hujan serta realitas di sekitarnya.

Berdasarkan lirik tersebut, saya tidak akan mengacukan bahasan kepada Efek Rumah Kaca atau Cholil Mahmud selaku pencipta lirik, tapi saya akan menggunakan istilah “aku lirik”, sebagai aku yang hadir dalam lirik.

Sejak pertama kali saya dengar, lagu ini langsung menempel di…

View original post 1,504 more words

Advertisements

Waktu dan Penyesalan dalam Seperseribu Detik Sebelum Pukul 16.00 Karya Seno Gumira Ajidarma

jam pasir

Sinopsis

Cerpen “Seperseribu Detik Sebelum Pukul 16.00” bercerita tentang lelaki tua dan perempuan tua yang bertemu kembali setelah 60 tahun berpisah. Mereka bertemu di bandara, dan dalam waktu 60 menit harus menerjemahkan perasaan yang tertahan selama puluhan tahun. Pertemuan itu sekaligus perpisahan mereka karena perempuan tua itu harus check-in paling lambat pukul 16.00. Mereka tidak ingin berpisah. Pada menit terakhir, waktu tertahan dan aktivitas dunia tiba-tiba terhenti. Detik membelah dirinya menjadi seribu kali. Akhir yang singkat itu terasa lebih lama bagi mereka walaupun mereka tetap harus berpisah. [cerpen dapat disimak di sini]

Romantisme dan Surealisme

Membaca cerita romantis karya Seno Gumira Ajidarma selalu menyenangkan, terutama jika disajikan dengan gaya surealisme. Cita rasa yang didapat adalah perasaan yang teramat dalam. Sederhananya, para tokoh menampilkan kesan “Aku takbisa hidup tanpamu!” atau “Aku cukup denganmu saja.” bahkan bisa sampai pada kesan “Dunia hanya milik kita berdua, yang lain ngontrak!” Kesan-kesan ini oleh sebagian pembaca dianggap sesuatu yang berlebihan. Namun, menurut saya, kita tidak akan banyak belajar tentang hidup kalau hanya sampai pada kalimat-kalimat tersebut. Bagi saya, semakin tinggi tingkat surealisme cerpen romantis, semakin banyak hal yang harus digali dari cerpen tersebut. Mengapa? Karena rasa memang selalu menuntut surealisme padahal yang sedang kita hadapi dalam hidup adalah realitas.

Sebelum membahas lebih dalam, mari kita berkenalan singkat dengan surealisme. Berdasarkan KBBI, surealisme adalah aliran dalam seni sastra yang mementingkan aspek bawah sadar manusia dan nonrasional dalam citraan. Ia berada di atas atau di luar realitas atau kenyataan. Hal lain yang perlu diketahui untuk memahami surealisme adalah realitas. Realitas adalah kenyataan. Kebalikan dari surealisme adalah realisme atau aliran kesenian yang berusaha melukiskan atau menceritakan sesuatu sebagaimana kenyataannya.

Sekilas Tentang Pembacaan Hermeneutika

 

Membahas sebuah karya dengan hermeneutika berarti sedang menyampaikan pengalaman hermeneutis bersama sebuah karya sastra. Pengalaman hermeneutis menguak sebuah kebenaran yang tersembunyi dalam sebuah karya sastra. Pengalaman pertama yang dilalui ketika membaca sebuah karya adalah pengalaman linguistik. Bahasa menjadi media untuk menerjemahkan karya dan memaknainya berdasarkan realitas dalam kehidupan. Dengan bahasa sebagai referensi, pemaknaan ini bersifat objektif. Objektivitasnya bukan dalam pengetian objektivitas saintifik tapi objektivitas secara historis. Objektivitas ini mengarah pada fakta bahwa sesuatu yang nampak dalam bahasa dan yang ada dalam karya sastra bukanlah aktivitas reflektif pikiran. Apa yang nampak pada karya sastra bukan entitas berlainan yang dibayangkan untuk mengeluarkan makna yang di luar waktu dan historis. Apa yang nampak pada karya sastra adalah bahan untuk belajar tentang hidup kita di masa kini.

Pengalam hermenuentis dibimbing oleh teks. Tindakan interpretasi terhadap teks tidak harus berupa perembutan yang kuat, “pemerkosaan” teks, tetapi kesatuan cinta yang menampilkan penuh potensi-potensi penafsir dan teks, yang keduanya merupakan rekan dalam dialog hermeneutis. Penafsiran dilakukan dengan melibatkan kehidupan saat ini. Kebenaran yang lahir nantinya bukan hanya korespondensi pernyataan terhadap fakta, tapi juga keinginan manusia untuk melihat kenyataan. Estetika dalam karya sastra adalah salah satu kendaraan untuk memanifestasikan kebenaran. – disarikan dari Hermeneutika, Teori Baru Mengenai Interpretasi, karya Richard E. Palmer-

Waktu Dalam SDSP 16.00

Teks adalah bagian paling luar dari sebuah karya sastra. Kata, kalimat, dan wacana yang membangunnya merupakan kunci untuk menemukan makna terdalam dari cerpen. Bila dibaca sekilas, cerpen SDSP 16.00 ini berkisah tentang dua orang yang saling mencintai tapi takpernah menyatakan perasaan mereka kepada satu sama lain. Walaupun takpernah menyampaikan perasaan masing-masing, mereka sudah saling mengerti perasaan yang taksampai itu. Setelah terpisah 60 tahun, perasaan itu tetap sama dan tetap dapat tertangkap oleh hati masing-masing. Mereka saling memberi keterangan tentang ketaksampaian yang terjadi di masa lalu. Ketaksampaian di masa lalu membuat mereka takingin berpisah lagi. Namun, pertemuan itu terjadi di bandara pada saat perempuan tua itu harus check-in dan menaiki pesawat terbang. Perempuan tua itu harus tetap pergi karena jika tetap dengan lelaki tua itu, kisah ini akan semakin panjang dan takjelas.

Pada kondisi demikian, mereka terbatasi waktu. Jasad mereka bertemu, takada jarak antara mereka, tapi waktu membatasi pertemuan. Mereka tidak ingin berpisah. Hasilnya, keterbatasan waktu menjadi situasi antagonis bagi mereka. Waktu menjadi masalah besar, menjadi pusat pembicaraan dalam kisah ini.  Hal ini terlihat sejak paragraf pertama,

Sebetulnya mereka berdua tidak ingin melihat jam tangan masing-masing, juga tidak ingin melihat jam dinding, karena hanya akan memperlihatkan kenyataan menyakitkan… ”Aku tidak mau berpisah.” ”Aku juga.

Waktu adalah mahluk Tuhan yang takpernah berhenti bergerak. Takdiperhatikan pun, ia tetap bergerak mengintai aktivitas manusia. Bahkan ada sekelompok orang yang takdapat menerima kenyataan tentang pergerakan waktu hingga mereka takmau melihat gerakan jarum jam. Waktu juga diartikan sebagai kesempatan, peluang, atau tempo. Waktu adalah kesempatan untuk bertemu bagi lelaki tua dan perempuan tua dalam cerpen ini. Habisnya waktu membuat mereka takpunya lagi kesempatan untuk bertemu. Setelah 60 tahun terpisah jarak, mereka harus dipisahkan kembali karena waktu.

Maka masalah utama mereka adalah keterbatasan waktu. “Lima menit lagi.” ”Hanya lima menit!” Detak jam dinding bagai dentum yang bergaung di langit.” Detak jam dibandingkan dengan dentuman. Tiruan bunyi detik disamakan dengan dentuman yang bergaung di langit. Kebisingan yang ditimbulkan setara bunyi meriam, amat memekakkan telinga. Kepekakkan itu semakin dahsyat karena dentuman itu bergaung, memantul dan menjadi dua kali lipat lebih berisik dari dentuman. Majas perbandingan detak jam dinding ini digunakan untuk menandai seberapa besar ketakinginan mereka untuk berpisah. Hal ini juga terlihat dalam kalimat,

Kini keduanya sama-sama tertunduk. Mereka telah bertemu kembali 60 tahun kemudian dan merasa tidak perlu berpisah lagi apapun yang terjadi bahkan ketika hal itu sama sekali tidak mungkin.”

Secara denotatif, tunduk hanya berarti menghadapkan wajah ke bawah. Namun, makna konotasi dari tertunduk adalah penyesalan. Mereka menyesal dengan kebodohan yang mereka lakukan 60 tahun silam. Mereka sama-sama menyesal taksempat menyampaikan perasaan masing-masing dengan jelas walaupun mereka sejatinya telah dapat menangkap apa yang ada dalam hati masing-masing. Penyesalan ini terlihat dari pertanyaan

”Kenapa aku bisa begitu bodoh waktu itu ya?” ”Aku juga bodoh.”

Konotasi lain dari tertunduk adalah takluk atau menyerah kalah. Dua tokoh dalam cerpen ini menunduk karena mengaku takbisa melakukan apa-apa. Mereka takingin terpisah tapi taktahu bagaimana caranya. Ketaktahuan itu terlihat dalam percakapan,

“Tapi bagaimana?” Itulah soalnya! Bagaimana!”

Ketaktahuan ini membuat mereka menyerahkan beban keterpisahan pada detak-detak waktu.

“Dengan segala daya mereka renggangkan detak-detak dari detik ke detik sehingga detak yang satu bertambah jauh jarak waktunya dari detak yang lain, dan begitu jauh jaraknya, makin lama makin jauh, begitu rupa jauhnya membuat setiap detak bagaikan bergaung sendirian dalam semesta waktu nan sunyi begitu sunyi bagaikan tiada lagi yang lebih sunyi sampai jarak yang begitu jauh membuat gaung tak menemukan sarana bunyi sama sekali karena waktu seperti telah tertahan!”

Kutipan tersebut diawali dengan kalimat,

Hanya seperti bisikan, tetapi dalam dunia mereka semesta berdentam-dentam.

Ini adalah penanda bahwa keterpisahan itu bersifat mental. Detak-detak dipisahkan hanya dalam dunia mereka berdua. Sejak saat itulah surealisme dioprasikan.

Setelah detak-detak dipisahkan, kita disuguhi realitas abnormal yang akan terjadi apabila waktu tertahan:

“jika waktu yang taktertahankan telah tertahan tentulah mengakibatkan tolak menolak yang dahsyat pada jarum jam!”

Ibarat bendungan raksasa yang menahan air bah, waktu yang sesungguhnyalah mengalirnya taktertahankan dalam ketertahanannya mengalir juga di sana-sini dengan sangat tidak beraturan….

waktu yang arus dan alirannya taktertahankan merembes dan mengalir di sana-sini sehingga kami masih bisa bicara saudara-saudara!

Seperseribu detik yang tersisa menjadi sejuta tahun semilyar tahun setrilyun tahun takterhitung! Apalah artinya 60 tahun yang terpadatkan dalam waktu yang terhenti, tertahan, berkutat maju dengan penuh perjuangan dan daya di luar perhitungan manusia?

Dalam dunia yang terhenti seperti gambar, tetapi gambar yang tergetar-getar dengan daya semesta yang waktunya tertahan ketika seharusnya taktertahankan, kata-kata dan hanya kata-kata yang bertebaran di luar ruang dan di luar waktu sebagai gagasan.

“Aneh-aneh saja waktu berhenti! Mengapa tidak kiamat saja sekalian? Dasar kurang pekerjaan!”

”Tau deh, siape ni nyang punya mau, nyang pasti nggak peduli kalau bisa nyilakain orang.”

Waktu yang tertahan harus dilawan dan memang sedang dilawan tetapi apakah kiranya yang akan menjamin keberhasilan perlawanan jika justru waktu yang taktertahankan tertahan sehingga bahkan rinai hujan tetap berada di tempatnya takbergerak seperti halaman gambar yang meruang?

Dalam waktu tertahan yang mengacaukan, nasib malang tertunda, tetapi takjelas juga apakah akan dapat dibatalkan.

Waktu sesungguhnya mengalir taktertahankan. Detik, menit, jam, hari, minggu, tahun, semua berjalan tanpa bisa dihentikan. Waktu taktertahankan karena mobil harus bergerak, angin, mega, sungai, burung elang, semesta harus bergerak. Waktu taktertahankan karena sendok yang sudah terangkat ke depan mulut harus sampai ke mulut, orang yang haus harus meneguk air yang ada di hadapannya, orang yang melenggang di cat-walk harus tetap berjalan, orang yang bersalto di udara harus kembali turun, dan pisau belati yang terhunus harus diketahui takdirnya, sampai atau tidak ia ke perut korbannya, nasib malang harus jelas akan terjadi atau tidak. Maka waktu takboleh tertahan, karena dunia ini perlu arus waktu. Waktu harus tetap berjalan karena segala hal punya keterangan waktu. Kata-kata yang terucap tanpa keterangan waktu, ia menjadi omong kosong di luar waktu. Waktu harus berjalan karena semesta harus beredar. Waktu harus tetap berjalan karena jika waktu tetap tertahan, semesta akan menjelma serbuk cahaya dan segera meruap selamanya (baca: kiamat). Waktu harus tetap berjalan karena ia terlalu berharga untuk dikorbankan hanya demi sepotong cinta yang taktersampaikan.

Maka Yang Harus Berubah Adalah Manusia

Karena waktu adalah mahluk Tuhan yang taktertahankan, maka yang harus mengikuti aturan waktu adalah mereka, manusia. Segala hal punya batas waktunya. Segala hal punya keterangan waktu. Kata-kata yang terucap tanpa keterangan waktu hanya akan menjadi omong kosong di luar waktu. Omong kosong inilah yang sedang kita saksikan dalam cerpen ini. Dua tokoh dalam cerpen ini sedang menciptakan kesia-siaan pertemuan mereka. Tidak ada yang mereka lakukan selain diam. Bahkan kata cinta yang dahulu taktersampaikan itu, kini kembali taktersampaikan. Enam puluh tahun lalu mereka bodoh, dan saat pertemuan itu pun mereka tetap bodoh dengan hanya menyampaikan penyesalan tanpa mengubah keadaan.

Sejatinya mereka diam tanpa bertindak apa-apa, padahal ada urusan yang belum tuntas di antara mereka. Mereka tetap bodoh padahal Tuhan sedang memberikan kesempatan kedua. Mereka takmampu melakukan apa-apa di masa sekarang karena sejak dulu mereka hanya saling mengingat tanpa berencana untuk melakukan sesuatu saat berjumpa kelak. Mereka kalah oleh penyesalan dan kebisuan yang mengekal pada diri masing-masing.

Sebelum penyesalah datang, sebelum waktu menjadi batas, manusia harus menggunakan kesempatan keluangan waktu dalam hidup mereka dengan menuntaskan setiap urusan. Sebelum kesempatan hilang, sebelum waktu menjadi kendala, manusia harus berani menyampaikan cintanya. Karena yang paling jauh adalah masa lalu. Karena yang paling dekat adalah kematian. Karena harta berharga yang selalu diabaikan adalah waktu. Ia adalah pedang, yang dapat menghunjam kapan saja bila takdikendalikan. Jangan sampai penyesalan datang dan yang kembali disalahkan adalah waktu.[]

Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.

*gambar dari sini

Seperseribu Detik Sebelum Pukul 16:00

Optimized-cerpenjanganpergiCerita pendek yang begitu romantis ini adalah karya Seno Gumira Ajidarma. Terbit di Kompas, 9 Desember 2012. Saya tak ingin berkata-kata, silahkan dinikmati saja.

Sebetulnya mereka berdua tidak ingin melihat jam tangan masing-masing, juga tidak ingin melihat jam dinding, karena hanya akan memperlihatkan kenyataan menyakitkan.

”Aku tidak mau berpisah.”

”Aku juga.”

”Aku tidak mau.”

”Aku juga tidak mau.”

”Tidak mau. Pokoknya tidak mau.”

”Jangan mau. Pokoknya jangan mau.”

Mereka saling memandang. Tidak ada waktu. Mungkinkah waktu 60 menit menggantikan waktu 60 tahun? Tidak ada waktu.

Tidak adakah waktu?

Tidak ada yang pernah tahu apakah waktu ada awal dan ada akhirnya. Tidak ada. Tidak pernah. Tidak mungkin. Tidak perlu.

Tidak ada waktu lagi. Mereka berdua melihat jam tangan. Deru pesawat terbang melintas di kejauhan.

Masih ada waktu!

”Lima menit lagi.”

”Hanya lima menit!”

Detak jam dinding bagai dentum yang bergaung di langit.

”Aku tidak mau, aku tidak mau, aku tidak mau…”

Lelaki tua itu menggeleng-gelengkan kepala. Perempuan tua itu tertunduk, selalu tertunduk, seperti yang selalu dilakukannya sejak belia. Bukankah memang dia, pikir lelaki tua itu, yang wajahnya kelam seperti lubang hitam di langit yang membuatku terhisap sejuta pusaran? Dalam 60 tahun, segalanya memang sudah berubah, tetapi setelah 60 tahun mata mereka masing-masing masih berbicara dengan bahasa yang sama.

”Aku juga tidak mau…,” kata perempuan tua itu setengah berbisik, ”tapi bagaimana?”

Bagaimana. Itulah soalnya. Bagaimana.

Waktu lima menit itu pun berjalan. Pesawat terbang mendarat. Pesawat terbang lepas landas. Kolam renang biru muda. Taman di bawah matahari. Orang-orang makan dan minum dan tertawa-tawa dalam berbagai bahasa. Pramugari menyeret kopornya.

”Aduuuuuhhh,” kata lelaki itu lagi dengan kedua tangan memegang kepalanya, ”kenapa ini mesti terjadi.”

Perempuan itu mengangkat kepalanya yang tadi selalu tertunduk.

”Pertemuan ini?”

”Perpisahan ini!”

Perempuan itu tertunduk lagi. Itulah kenyataannya. Mereka telah berpisah 60 tahun yang lalu tanpa pernah bertemu kembali, tanpa pernah mengucapkan sepatah kata sama sekali, tetapi kini harus berpisah lagi.

”Padahal selama itu aku selalu mengingatmu.”

”Aku juga.”

Mereka telah saling mengingat tanpa saling mengetahui isi hati masing-masing meski hati mereka telah bersua. Mereka telah mendengar kata hatinya masing-masing yang telah menyampaikan segalanya tanpa bahasa apapun selain rasa, hanya rasa, dan tiada lain selain rasa tanpa pernah mendapat terjemahan nalarnya dalam kepala.

”Kenapa aku bisa begitu bodoh waktu itu ya?”

”Aku juga bodoh.”

Kini keduanya sama-sama tertunduk. Mereka telah bertemu kembali 60 tahun kemudian dan merasa tidak perlu berpisah lagi apapun yang terjadi bahkan ketika hal itu sama sekali tidak mungkin.

”Tapi bagaimana?”

Itulah soalnya! Bagaimana!

”Satu menit lagi!”

Perempuan tua itu mengusap matanya. Lelaki tua itu memegang tangannya.

”Tidak! Kita tidak perlu berpisah lagi! Tidak usah!”

Tidak ada waktu lagi!

Tangan mereka saling menggenggam dengan erat, sangat amat erat, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih erat.

”Aku tidak mau, aku tidak mau, aku tidak mau!”

Hanya seperti bisikan, tetapi dalam dunia mereka semesta berdentam-dentam. Dengan segala daya mereka renggangkan detak-detak dari detik ke detik sehingga detak yang satu bertambah jauh jarak waktunya dari detak yang lain, dan begitu jauh jaraknya, makin lama makin jauh, begitu rupa jauhnya membuat setiap detak bagaikan bergaung sendirian dalam semesta waktu nan sunyi begitu sunyi bagaikan tiada lagi yang lebih sunyi sampai jarak yang begitu jauh membuat gaung tak menemukan sarana bunyi sama sekali karena waktu seperti telah tertahan!

Di restoran itu terlihat jarum jam bergetar dengan dahsyat, begitu dahsyat sampai takbisa dilihat karena jika waktu yang taktertahankan telah tertahan tentulah mengakibatkan tolak menolak yang dahsyat pada jarum jam!

Seperseribu detik sebelum pukul 16 waktu setempat, jarum jam di seluruh dunia bergetar dahsyat dalam waktu setempatnya masing-masing! Waktu telah tertahan! Orang-orang berhenti berjalan. Sendok berhenti di muka mulut. Minuman takjadi tertuang. Airnya mengambang karena waktu memang berhenti. Busyet!

Namun meski segala pergerakan tertahan, bergetar dahsyat dalam dorongan waktu yang taktertahankan tetapi dalam kenyataannya tertahan, pikiran orang-orang yang gerakannya terhenti masih berjalan dan mereka masih dapat berkata-kata untuk menyalurkan kepanikan! Ibarat bendungan raksasa yang menahan air bah, waktu yang sesungguhnyalah mengalirnya taktertahankan dalam ketertahanannya mengalir juga di sana-sini dengan sangat tidak beraturan….

”Busyet! Ada apa ini? Ada apa ini?”

Mobil-mobil berhenti melaju, tetapi radionya tetap berbunyi, karena penyiar yang tangannya terhenti ketika memegang mikrofon masih bisa berbicara dan melaporkan pandangan mata yang didengarnya lewat perangkat-suara di telinganya.

”Para pendengar di segala penjuru tanah air yang dapat dicapai oleh siaran ini, mohon perhatian sejenak atas peristiwa luar biasa yang dilaporkan para wartawan kami di lapangan, yang sementara tubuhnya takbisa lagi bergerak maju, masih bisa menyampaikan pandangan mata lewat mikrofon yang katanya kebetulan terangkat di depan mulutnya. Para pendengar sekalian, di jalanan mobil-mobil berhenti dengan mesin masih hidup, seperti bersama waktu tetap mau berjalan tapi takberdaya karena waktu tertahan. Bahkan pesawat terbang berhenti di udara dan tidak jatuh saudara-saudara, karena memang rupa-rupanya adalah waktu yang tertahan dan takbisa berjalan bersama segala sesuatu yang bergerak dalam waktu! Namun takseluruh waktu tertahan saudara-saudara, waktu yang arus dan alirannya taktertahankan merembes dan mengalir di sana-sini sehingga kami masih bisa bicara saudara-saudara! Orang-orang tertahan takbisa maju di jalanan, tetapi masih bisa saling berbicara dengan panik karena mengira akhir dunia telah tiba! Ahhhh, ada-ada saja bukan saudara-saudara? Hehehehe!”

Seperseribu detik sebelum pukul 16:00 waktu telah tertahan. Seperseribu detik yang tersisa menjadi sejuta tahun semilyar tahun setrilyun tahun takterhitung! Apalah artinya 60 tahun yang terpadatkan dalam waktu yang terhenti, tertahan, berkutat maju dengan penuh perjuangan dan daya di luar perhitungan manusia? Angin berhenti, mega-mega berhenti, sungai berhenti, samudera diam takberombak, burung elang takberkepak, semesta dan segala langitnya menjadi gambar.

Dalam dunia yang terhenti seperti gambar, tetapi gambar yang tergetar-getar dengan daya semesta yang waktunya tertahan ketika seharusnya taktertahankan, kata-kata dan hanya kata-kata yang bertebaran di luar ruang dan di luar waktu sebagai gagasan. Inilah gagasan yang menembus lembaran-lembaran ruang dan lembaran-lembaran waktu dan mempertanyakan.

”Ada apa ini? Ada apa ini?”

”Aneh-aneh saja waktu berhenti! Mengapa tidak kiamat saja sekalian? Dasar kurang pekerjaan!”

”Memangnya ada yang ngerjain? Memangnya siapa yang kurang pekerjaan sampai bisa jadi kayak gini?”

Di pasar, meskipun segala gerakan tubuh terhenti, mulut-mulut juga taksudi ditahan.

”Bener-bener deh! Apa sih ini maksudnya?”

”Tau deh, siape ni nyang punya mau, nyang pasti nggak peduli kalau bisa nyilakain orang.”

”Iye ni! Kebangetan!”

Gagasan terucap di antara orang-orang yang sendok berisi nasi gorengnya sudah terangkat ke depan mulut tapi takbisa dilanjutkan, yang minuman dalam botolnya tertuang ke dalam mulut kehausan tetapi airnya terhenti sebelum masuk tenggorokan, yang sedang berjalan sambil melamunkan kekasih sedang menunggu tetapi lantas kaki terhenti takbisa berjalan meski maksud hati terus melangkah ke depan, yang melenggang di cat-walk karena memang peragawati tapi lantas berhenti seperti patung untuk pajangan, yang sedang bersalto di udara dalam lomba senam tetapi berhenti di udara tanpa bisa diturunkan karena memang seluruh umat manusia dalam semesta gerakannya tertahan. Busyet…

Tiada lagi peristiwa akan terjadi. Cerita terhenti dan tanpa cerita tiadalah berarti segala keberadaan dunia ini. Waktu yang tertahan harus dilawan dan memang sedang dilawan tetapi apakah kiranya yang akan menjamin keberhasilan perlawanan jika justru waktu yang taktertahankan tertahan sehingga bahkan rinai hujan tetap berada di tempatnya takbergerak seperti halaman gambar yang meruang? Namun nun di suatu tempat tersunyi pisau belati bergerigi yang siap menembus perut pun tertahan takdapat dilanjutkan. Dalam waktu tertahan yang mengacaukan, nasib malang tertunda, tetapi takjelas juga apakah akan dapat dibatalkan.

Seperseribu detik sebelum pukul 16:00. Para pelayan di restoran melihat dua orang tua masih saling menggenggam tangan karena keduanya takmenghendaki perpisahan. Keduanya hanya ingin berada di sana saja selama-lamanya, begitu lama, bagaikan tiada lagi yang lama, karena memang maunya selama-lamanya. Tertelungkup dan berpegangan tangan dengan erat seolah bertahan dari waktu yang berusaha menyeret dan memisahkan.

”Kenapa kamu menghilang begitu saja, ketika aku selalu menantimu sebelumnya…”

”Aku taktahu kamu selalu menantiku, takpernah tahu dan tak akan pernah pergi kalau tahu kamu selalu menantiku, tak akan pernah…”

”Bagaimana kamu bisa tidak tahu aku selalu menantimu seperti itu…”

”Bagaimana aku bisa tahu kamu selalu menantiku seperti itu…”

”Padahal aku bahagia setiap kali kamu datang, sampai pada suatu hari kamu tidak pernah datang lagi, hilang lenyap seperti ditelan bumi…”

”Aku tidak tahu, takpernah tahu, kepalamu selalu tertunduk seperti itu, sampai aku mengira kamu taksuka dengan kehadiranku…”

”Aku selalu menantimu, menunggu seperti perempuan dalam dongeng, sampai aku tahu harus menghadapi kenyataan dan melupakanmu…”

”Sekarang kamu tetap akan pergi dan melupakan aku…”

”Tidak. Tidak mungkin. Tidak mau.…”

Tapi waktu check-in paling lambat pukul 16:00. Jika tidak perempuan tua itu bisa terlambat, dan jika terlambat serta ketinggalan pesawat, cerita akan jadi berlarat-larat.

”Seandainya waktu…”

Mereka tak ingin waktu mencapai pukul 16:00. Mereka sangat menginginkan waktu tertahan sehingga semesta takberedar dan karenanya bergetar-getar sehingga membuat langit berdenyar-denyar.

Namun waktu tetap berjalan, sampai seperseribu detik sebelum pukul 16:00.

”Seandainya…,” kata lelaki tua itu akhirnya, menggenggam tangan perempuan tua itu dengan erat, seperti ingin menyatu dan tidak akan terpisahkan lagi setelah 60 tahun berlalu tanpa perjumpaan.

Seperseribu detik sebelum pukul 16:00, jika waktu tetap tertahan semesta akan menjelma serbuk cahaya dan segera meruap selamanya seperti lenyapnya bisikan, seolah cinta memang begitu besar sehingga dunia harus dikorbankan.

Seperseribu detik sebelum pukul 16:00, jarum jam bergerak menuju angka IV.

Kedua orang tua itu saling menatap, dengan mata yang telah menjadi basah tanpa dapat ditahan….

Jalan Panjang — Kampung Utan

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!